Arsitektur

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Ruang lingkup dan keinginan
* 2 Teori dan praktik
* 3 Sejarah
* 4 Kesimpulan
* 5 Lihat pula
* 6 Pranala luar

[sunting] Ruang lingkup dan keinginan

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni". Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang mempengaruhi arsitektur.
[sunting] Teori dan praktik

Pentingnya teori untuk menjadi rujukan praktik tidak boleh terlalu ditekankan, meskipun banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Vitruvius berujar: "Praktik dan teori adalah akar arsitektur. Praktik adalah perenungan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya dengan tangan, dalam proses konversi bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang berpraktik tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktik hanya berpegang kepada "bayangan" dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktik, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan".
[sunting] Sejarah

Untuk lebih jelas lihat artikel utama: Sejarah arsitektur

Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.

Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.

Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.

Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah "bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

Sebagian arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat ditempati. Design Methodology Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar proses perancangan.

Bersamaan dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek sekarang ini. Namun demikian, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun esok hari mungkin sesuatu yang lain.
[sunting] Kesimpulan

bangunan adalah produksi manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe bangunan yang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur. Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu.

Promotion

Kami menerima pesanan untuk promosi perusahaan anda dari Tas Ladies, Tas Pinggang, Tas Ransel, Tas Slempang, Tas Serut, Tempat CD, Tempat HP, Topi, Gantungan Kunci,dll.  Harga menyesuaikan dengan jenis barang, silakan menghubungi kami untuk keterangan lebih lanjut via email, sms maupun telepon.

Personal Web Kit

The Page Edit Screen
Typing and Editing Text

The Page Edit Screen is the first thing you'll learn while going thru the Quickstart Guide. The easy interface allows you to type and format text the same way you would in a word processor.
Paragraphs are created by hitting your Enter key, while line breaks are made by using both the Shift + Enter key, very similar to many word processors.
  • You can create list items like this.
  • And this.
  1. Or numbered list items like this.
  2. And this.
Adding Links

Adding links to other websites or to email addresses is really easy too. Just select the text you want to be linked, click the button on the toolbar, enter the website or email address, and a link is made.
Adding Photos

The Page Edit Screen is also where you will add photos that you have imported into your Picture Library. Using your digital photographs in your website is really easy and fun.
Next: Adding Pages
Tidak terasa waktu berlalu sangat sangat cepat. Satu persatu anak anak mulai dengan kehidupannya masing masing,yeah, beginilah kodrat sebuah kehidupan yang mau tidak mau suka tidak suka kita  pasti dan harus melalui fase fase nya. Kalau tidak demikian maka tidak akan ada siklus yang di namakan kehidupan di muka bumi ini. Hari hari yang kita lalui adalah sebuah pelajaran yang kelak akan kita bawa dan pertanggungjawabkan kelak di hari akhir,begitulah yang saya dengar dari beberapa orang yang mempunyai kelebihan pengetahuan dan ilmu dan saya harap saya pun benar benar bisa mempercayainya dengan amat sangat( ya robb bantu aku selalu). Diantara sikap penerimaan yang amat sangat atau keputusasaan akan harapan sampai saat ini alhamdulillah saya masih bisa sangat menikmati setiap saat peran yang tuhan berikan kepada tubuh lemah ini sampai saat ini. Adapun hal hal yang terjadi dalam tiap waktu baik itu

Hariring Keur lembur Kuring

Desa Langseb

  Desa Langseb mangrupikeun salah sahiji desa anu aya di wilayah Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat, anu leresna aya di Kecamatan Lebakwangi.

Promotion Tas Foto Digital

tas foto
Kami menerima pesanan untuk promosi perusahaan anda dari Tas Ladies, Tas Pinggang, Tas Ransel, Tas Slempang, Tas Serut, Tempat CD, Tempat HP, Topi, Gantungan Kunci,dll.  Harga menyesuaikan dengan jenis barang, silakan menghubungi kami untuk keterangan lebih lanjut via email, sms maupun telepon.

Konstruksi Baja Ringan

Berbeda dengan baja konvensional, baja ringan merupakan baja mutu tinggi yang memiliki sifat ringan dan tipis, namun memiliki fungsi setara baja konvensional. Baja ringan ini termasuk jenis baja yang dibentuk setelah dingin (cold form steel). Rangka atap baja ringan diciptakan untuk memudahkan perakitan atap baja ringan dan konstruksi sipil. Meskipun tipis, baja ringan memiliki derajat kekuatan tarik yang tinggi yaitu sekitar 550 MPa, sementara baja biasa sekitar 300 MPa. Kekuatan tarik dan tegangan untuk rangka atap ini untuk mengkompensasi bentuk atap baja yang tipis. Ketebalan baja ringan untuk atap ringan yang beredar sekarang ini berkisar dari 0,4mm – 1mm.

Perhitungan kuda-kuda rangka baja ringan dari jasa konstruksi amat berbeda dengan kayu, yakni cenderung lebih rapat. Semakin besar beban yang harus dipikul, jarak kuda-kuda semakin pendek. Misalnya untuk genteng dengan bobot 40 kg/m2 jarak kuda-kuda atap baja bisa dibuat setiap 1,4m. Sementara bila bobot genteng mencapai 75kg/m2, maka jarak kuda-kuda atap baja ringan menjadi 1,2m. Kenapa harus dipakai rangka atap baja ringan oleh jasa konstruksi?

Inilah kelebihan dan kekurangannya: (*sumber : serial rumah)
Kelebihan:
* Karena bobot rangka atap yang ringan menurut konstruksi sipil maka dibandingkan kayu, beban yang harus ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah (jadi lebih irit strukturnya)
* Baja ringan bersifat tidak membesarkan api (non-combustible).
* Tidak bisa dimakan rayap (memangnya rayap makan baja atap ringan…?.)
* Pemasangan rangka baja relatif lebih cepat apabila dibandingkan rangka kayu.
* Baja ringan nyaris tidak memiliki nilai muai dan susut, jadi tidak berubah karena panas dan dingin (itu kata aplikatornya lho).

Kekurangannya :
* Kerangka atap baja ringan tidak bisa diekspos seperti rangka kayu, sistem rangkanya yang berbentuk jaring kurang menarik bila tanpa penutup plafon.
* Karena strukturnya yang seperti jaring ini maka bila ada salah satu bagian struktur yang salah hitung ia akan menyeret bagian lainnya maksudnya jika salah satu bagian kurang memenuhi syarat keamanan, maka kegagalan bisa terjadi secara keseluruhan (biasanya perhitungan strukturnya langsung dilakukan oleh structural engineer dari aplikatornya)
* Rangka atap baja ringan tidak sefleksibel kayu yang dapat dipotong dan dibentuk berbagai profil. (makanya jarang digunakan pada bangunan tradisional…)
Rangka atap baja
Share with google rumah kita

Sistem AC dan Kerja AC


Air Conditioner( AC ) Bagi masyarakat Jakarta sepertinya sudah menjadi kebutuhan wajib di sini juga banyak AC yang berkualitas Jual AC Split & Jual AC Murah.

Bagaimana tidak,suhu udara yang begitu panas setiap hari membuat suasana ruangan menjadi gerah.Apalagi tingkat populasi udara luar rungan yang begitu tinggi(Jual AC Split & Jual AC Murah).Kehadiran AC Murah menjadi solusi yang tepat untuk kedua problem ini.

Apabila saat anda berencana membeli perangkat AC Split untuk dirumah,mungkin beberapa tips ini bisa membantu anda :

Pilih AC yang mempunyai converter. Converter pada AC Split berfungsi untuk mengatur beban listrik,secara otomatis AC akan mengurangi beban pendinginan tetapi masih dalam posisi menyala (on).Seperti kita ketahui daya listrik terbesar pada saat start.

Perhatikan bagian kipasnyaSemakin lebar kipas,semakin kencang angin yang di hembuskan. Selain itu, AC yang memiliki kipas lebar tidak akan memiliki suara berisik. Evapator yang lebar pada AC Murah juga menandakan kipas pada blower External lebih besar.Ini diperlukan untuk keseimbangan kinerja mesin.Dan akan lebih baik lagi bila kipas tersebut bergerigi karena dapat turbulansi menjadi tidak berisik.

Pertimbangan fitur-fitur tambahan yang berguna untuk kesehatanSaat ini sudah ada AC dengan fitur yang mampu membasmi kuman. Bahkan ada juga yang mampu menyaring debu yang sangat halus termasuk bakteri. Jadi AC tidak lagi hanya menyejukan ruangan,tapi juga menyehatkan.

Sesuaikan dengan interior rumahJika anda seseorang yang peduli terhadap interior rumah,maka pilih AC yang mendukung nuansa interior rumah anda.

Asal Mula (Kab.) Kuningan


Ditulis oleh Maman Romansyah di/pada November 10, 2009
Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sang Pandawa mempunyai putera wanita bernama Sangkari. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan, putra Danghyang Guru Sempakwaja, seorang resiguru di Galunggung. Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian dangiang kuning dan menganut agama sanghiyang.
Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita pasukan Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat. Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun, melalui putranya Sang Mandiminyak yang menggantikannya sebagai Raja Galuh (703-710) dan cucunya Sang Sena yang menjadi raja berikutnya (710-717).
Di Kerajaan Galuh terjadi konflik kepentingan, sehingga Resi Guru Sempakwaja mengambil keputusan. Diantaranya menempatkan Sang Pandawa menjadi guru haji (resiguru) di layuwatang (sekarang tempatnya di Desa Rajadanu Kecamatan Japara). Sedangkan kedudukan kerajaan digantikan Demunawan dengan gelar Sanghiyangrang Kuku, tahun 723.
Masa pemerintahan Rahyangtang Kuku, diberitakan bahwa ibu kota Kerajaan Kuningan ialah Saunggalah. Lokasinya diperkirakan berada di sekitar Kampung Salia, sekarang termasuk Desa Ciherang Kecamatan Nusaherang. Seluruh wilayahnya meliputi 13 wilayah diantaranya Galunggung, Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasesa, Kahirupan, Sumanjajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pegergunung, Muladarma dan Batutihang.
Tahun 1163-1175, Kerajaan Saunggalah terungkap lagi setelah tidak ada catatan paska Demunawan. Saat itu tahta kerajaan dipegang oleh Rakean Dharmasiksa, anak dari Prabu Dharmakusumah (1157-1175) seorang raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Rakean Dharmasiksa memerintah Saunggalah menggantikan mertuanya, karena ia menikah dengan putri Saunggalah.
Namun Rakean Dharmasiksa tidak lama kemudian menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1175 sebagai Raja Sunda. Sedangkan kerajaan Saunggalah digantikan puteranya yang bernama Ragasuci atau Rajaputra. Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki Rahyantang Saunggalah (1175-1298). Ia memperistri Dara Puspa, putri seorang raja Melayu.
Tahun 1298, Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Ragasuci (1298-1304). Kedudukannya di Saunggalah digantikan puteranya bernama Citraganda. Pada masa kekuasaan Ragasuci, wilayah kekuasaannya bertambah meliputi Cipanglebakan, Geger Gadung, Geger Handiwung, dan Pasir Taritih di Muara Cipager Jampang.
Masa Keadipatian
Berdasarkan tradisi lisan, sekitar abad 15 Masehi di daerah Kuningan sekarang dikenal dua lokasi yang mempunyai kegiatan pemerintahan yaitu Luragung dan Kajene. Pusat pemerintahan Kajene terletak sekarang di Desa Sidapurna Kecamatan Kuningan. saat itu, Luragung dan Kajene bukan lagi sebuah kerajaan tapi merupakan buyut haden. Masa ini, dimulai dengan tampilnya tokoh Arya Kamuning, Ki Gedeng Luragung dan kemudian Sang Adipati Kuningan sebagai pemipun daerah Kajene, Luraugng dan kemudian Kuningan.
Mereka secara bertahap di bawah kekuasaan Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Djati (salah satu dari sembilan wali, juga penguasa Cirebon). Tokoh Adipati Kuningan ada beberapa versi. Versi pertama Sang Adipati Kuningan itu adalah putera Ki Gedeng Luragung (unsur lama). Tetapi kemudian dipungut anak oleh Sunan Gunung Djati (unsur baru).
Dia dititipkan oleh aya angkatnya kepada Arya Kamuning untuk dibesarkan dan dididik. Kemudian menggantikan kedudukan yang mendidiknya. Versi kedua, Sang Adipati Kuningan adalah putera Ratu Selawati, keturunan Prabu Siliwangi (unsur lama), dari pernikahannya dengan Syekh Maulanan Arifin (unsur baru). Disini jelas terjadi kearifan sejarah.
Berdasarkan Buku Pangaeran Wangsakerta yang ditulis abad ke 17, Sang Adipati Kuningan yang berkelanjutan penjelasanya adalah berita yang menyebutkan tokoh ini dikaitkan dengan Ratu Selawati. Bahwa agama Islam menyebar ke Kuningan berkat upaya Syek Maulana Akbar atau Syek Bayanullah. Dia adalah adik Syekh Datuk Kahpi yang bermukim dan membuka pesantren di kaki bukit Amparan Jati (sekarang Cirebon).
Syekh Maulana Akbar membukan pesantren pertama di Kuningan yaitu di Desa Sidapurna sekarang, ibu kota Kajene. Ia menikah dengan Nyi Wandansari, putri Surayana. Ada pun Surayana adalah putra Prabu Dewa Niskala atau Prabu Ningrat Kancana, Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali (1475-1482) yang menggantikan kedudukan ayahnya Prabu Niskala Wastu Kancana atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi.
Dari pernikahan dengan Nyi Wandansari berputra Maulana Arifin yang kemudian menikah dengan Ratu Selawati. Ratu Selawati bersama kakak dan adiknya yaitu Bratawijaya dan Jayakarsa adalah cucu Prabu Maharaja Niskala Wastu Kancana atau Prabu Siliwangi. Bratawijaya kemudian memimpin di Kajene dengan gelar Arya Kamuning. Sedangkan Jayaraksa memimpin masyarakat Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung.
Mereka bertiga, yakni Ratu Selawati, Arya Kamuning (Bratawijaya), Ki Gedeng Luragung (Jayaraksa) diIslamkan oleh uwaknya yakni Pangeran Walangsungsang. Adapun Sang Adipati Kuningan yang sesungguhnya bernama Suranggajaya adalah anak dari Ki Gedeung Luragung (namun hal itu masih merupakan babad peteng atau masa kegelapan yang sampai saat ini tidak diketahui kebenarannya sesungguhnya anak siapa Sang Adipati Kuningan).
Atas prakarsa Sunan Gunung Djati dan istrinya yang berdarah Cina Ong Tin Nio yang sedang berkunjung ke Luragung, Suranggajaya diangkat anak oleh mereka. Tetapi pemeliharaan dan pendidikannya dititipkan pada Arya Kamuning. Sedangkan Arya Kamuning sendiri dikabarkan tidak memiliki keturunan. Akhirnya Suranggajaya diangkat jadi adipati oleh Susuhunan Djati (Sunan Gunung Djati) menggantikan bapak asuhnya.
Penobatan ini dilakukan pada tanggal 4 Syura (Muharam) Tahun 1498 Masehi. Penanggalan tesebut bertempatan dengan tanggal 1 September 1498 Masehi. Sejak tahun 1978, hari pelantikan Suranggajaya menjadi Adipati Kuningan itu ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan sampai sekarang.***

Menelusuri Peradaban Zaman Batu di Cipari

Kuningan, bagi para arkeolog merupakan sebuah daerah yang banyak menyimpan misteri masa lalu, terutama zaman megalitikum. Memang masih banyak benda peninggalan masa lalu yang dapat ditemukan di Kabupaten Kuningan. Bahkan ekskavasi secara berkala pernah dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1974.
Beragam temuan banyak didapati di hampir seluruh wilayah kabupaten yang terletak di kaki Gunung Ciremai ini. Mulai dari menhir, batu dakon, meja batu, hingga peti kubur batu tersebar. Tercatat, 14 buah peti kubur batu terdapat di Desa Cibuntu, Kecamatan Mandirancan, Palatagan (Pancalang), Rajadanu (Jalaksana), Raga Wacana (Kramat Mulya), Panawar Beas (Cigugur), dan di Desa Cigadung serta Pager Barang Citangtu Kecamatan Kuningan Kota.
Taman Purbakala Cipari berada di lingkungan Cipari, Kelurahan Cigugur. Terletak pada sebuah perbukitan dan berada di bagian barat Kuningan. Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 3,5 kilometer dengan kondisi jalan sudah beraspal. Untuk menikmati suasana pedesaan, Anda dapat menggunakan sarana transportasi berupa delman. Hanya dengan membayar Rp 15 ribu, kusir delman akan mengantarkan perjalanan wisata Anda ke Taman Purbakala Cipari, Kolam Ikan Cigugur, dan Desa Adat Cigugur yang terkenal dengan tradisi Seren Taun -nya.
Perjalanan di Kabupaten Kuningan, diawali di situs purbakala Cipari. Di situs purbakala ini tersimpan beraneka ragam peninggalan manusia masa lalu terutama yang berkembang pada masa megalitikum. Yang menjadi daya tarik obyek wisata purbakala berupa peti kubur batu yang masih terawat dan tertata rapi serta insitu. Sehingga pengunjung obyek tersebut akan dapat menyimak tentang pola kehidupan manusia masa lalu.
Peti kubur batu yang berada di situs purbakala Cipari sebenarnya memiliki kesamaan fungsi dengan peti-peti kubur lainnya yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Di Kepulauan Samosir, masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan Tundrum Baho, di Bondowoso Jawa Timur disebut dengan Pandusa, di Gianyar Bali dikenal dengan istilah Sarkofagus, dan di Sulawesi Utara disebut juga dengan nama Waruga. Yang membedakan, peti kubur batu di Cipari terbuat dari lempengan-lempengan batu yang dibentuk menyerupai peti. Batu-batu berupa papan tersebut banyak sekali ditemukan di sekitar lokasi taman wisata purbakala.
Peti kubur batu yang ditemukan di Kabupaten Kuningan rata-rata menghadap ke arah timur laut-barat daya. Pola ini sebenarnya merupakan penggambaran atas konsep-konsep kekuatan alam seperti matahari dan bulan, yang merupakan pedoman budaya manusia yang hidup pada masa megalitikum, di mana mereka selalu berpegang pada pola terbit dan terbenamnya matahari. Di dalam peti kubur batu itu sendiri tidak ditemukan kerangka manusia. Meski demikian, temuan berupa bekal kubur banyak ditemukan di situs yang pernah dijadikan area penelitian oleh Puslit Arkenas secara berkesinambungan sejak tahun 1972 di bawah pimpinan Teguh Asmar.
Selain kubur peti batu, di sekitar lokasi wisata purbakala juga terdapat bangunan punden berundak yang letaknya lebih tinggi dari bangunan megalitik lainnya. Menurut kepercayaan masa lalu, bangunan tersebut berfungsi sebagai sarana untuk penghormatian dan persembahan bagi roh para nenek moyang. Bangunan lain yang tak kalah uniknya adalah berupa menhir, berupa batu yang berdiri tegak yang berfungsi sebagai sarana untuk memperingati seseorang yang masih hidup ataupun kerabat-kerabat yang telah lama meninggal dunia. Menhir juga merupakan salah satu sarana yang berfungsi sebagai tahta kedatangan roh nenek moyang.
Di kawasan Museum Purbakala Cipari tersimpan benda-benda temuan hasil ekskavasi tim LPPN dan Puslitarkenas. Benda-benda seperti kapak batu persegi, gelang batu, kapak batu, gelang perunggu, lumpang batu, batu obsidian, hematite, batu bahan, bulatan tanah, kendil, pendil, jambaran, dan buli-buli tersimpan rapi di dalam museum yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof DR Syarief Thayeb pada 23 Februari 1978. Tidak jauh dari Taman Purbakala Cipari, kira-kira berjarak satu kilo meter ke arah barat, terdapat sebuah desa dengan komunitas masyarakat yang masih menganut tradisi karuhun. Setiap tanggal 22 Rayagung, mereka selalu merayakan tradisi Seren Taun. Yaitu sebuah upacara masyarakat agraris Sunda terhadap limpahan hasil bumi yang diberikan Sang Pencipta kepada umatnya.
”Sampurasun Ka Luluhur, tamada ka Sadayana, cunduk waktu nu rahayu nitih wanci numustari, syukuran Ka nu maha Agung.” Begitulah lantunan bait penuh makna yang diucapkan oleh pemimpin upacara menambah sakral upacara yang digelar setiap tahun sekali oleh masyarakat di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Bahkan, iringan nada-nada gamelan renteng yang melantunkan tembang sanjungan berupa lagu papalayon dan babarit kepada Karuhun atau nenek moyang menambah sakral ruangan paseban Tri Panca Tunggal yang berdiri pada tahun 1840 itu. Tradisi Seren Taun yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat agraris di Cigugur sebenarnya makna hampir sama dengan upacara-upacara yang dilakukan oleh para petani di seluruh Indonesia, bahkan petani di negara-negara agraris masih melakukan kebiasaan atau upacara Thank’s Giving kepada Tuhan atas limpahan hasil pertanian.
Mungkin, kita pernah mendengar kebiasan petani di Jawa Tengah dengan tradisi Mapag Sri dan upacara-upacara sejenis lengkap dengan beragam uborampenya. Semua itu merupakan rasa penghormatan yang tak terhingga dari para petani atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Esa sehingga hasil bumi-utamanya padi- dapat dinikmati oleh masyarakat. Melalui Seren Taun inilah masyarakat petani di kawasan Cigugur dan sekitarnya menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencerminan kesadaran pribadi atas suatu kenyataan yang mereka terima, yakni hidup dengan kehidupan, dengan kehalusan budi, cinta kasih, tatakrama dalam menerima sentuhan cipta, rasa, dan karsa yang diberikan sang Pencipta. Upacara Seren Taun bagi petani di Cigugur selalu diselenggarakan pada setiap bulan Rayagung.
Pangeran Djatikusumah, seorang pinisepuh masyarakat Desa Cigugur, kepada Republika mengungkapkan, prosesi Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak atau menjemput padi. Kebiasaan menjemput padi dilaksanakan empat hari sebelum upacara puncak berlangsung. Ngajayak yang digelar pada tanggal 18 Rayagung memiliki makna menyambut cinta kasih atas kemurahan Tuhan. Rentetan prosesi tidak berhenti di situ. Pada tanggal 22 Rayagung, digelar upacara puncak penumbukan padi. Dalam perhitungan tahun Saka, bulan Rayagung merupakan bulan kedua belas atau penghujung tahun. Demikian dengan penetapan perayaan tradisi Seren Taun juga bermakna kehidupan manusia dari tahun ke tahun tidak lain karena keagungan Tuhan pada umatnya. Masyarakat Sunda lebih mengedepankan religiusitas ahklak, kesejahteraan masyarakat, dan menunujukkan bahwa nenek moyang telah memiliki peradaban moralitas.
Prosesi upacara puncak yang berlangsung sakral, diikuti oleh muda-mudi, serta warga masyarakat Desa Cigugur dengan penuh sukacita. Dengan formasi empat penjuru mata angin, upacara ini diawali dengan barisan lulugu, yakni dua orang gadis muda belia yang mengusung padi, buah-buahan, dan umbi-umbian hasil bumi masyarakat yang dikawal oleh seorang pemuda dengan membawa payung janur bersusun tiga. Pada barisan kedua, sebanyak sebelas gadis belia membawa padi yang masing-masing dipayungi juga oleh para pemuda.
Ini disusul dengan rombongan ibu-ibu yang membawa ikatan padi yang disunggi di atas kepala atau menurut masyarakat setempat disebut nyuhun. Rentetan barisan diakhiri dengan rombongan bapak-bapak paruh baya yang memikul padi dengan rengkong sambil digoyang-goyang. Menurut Pangeran Jatikusumah, semuanya itu mengandung makna yang sangat hakiki bagi masyarakat Cigugur.
Banyaknya hasil bumi yang dibawa masyarakat Cigugur ke arena upacara Seren Taun menandakan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan, meski masyarakat di Cigugur dan sekitarnya beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan aliran kepercayaan. Masih di kawasan Cipari-Cigugur, wisatawan dapat menikmati sejuknya hawa pegunungan Ciremai sembari bercengkrama dengan ribuan ikan kancra atau sering disebut ikan dewa yang oleh masyarakat setempat sangat disakralkan.
Lokasi kolam keramat Cigugur, terletak kira-kira 200 meter dari desa adat Cigugur atau empat kilometer dari pusat kota Kuningan. Menurut masyarakat setempat, komunitas ikan langka tersebut hanya terdapat di daerah Kuningan. Itu pula sebabnya pemerintah setempat mengangkat ikan kancra sebagai fauna yang dilindungi dan tanaman gadung sebagai flora yang dilindungi dengan perda. Ikan jenis kancra bodas ini selain terdapat di kolam keramat Cigugur, juga hidup secara alami di kawasan obyek wisata Darma Loka, Kolam Keramat Cibulan, Kolam Linggarjati, dan Kolam Cipaniis. n dedy setiono musashi
Legenda Ikan Kancra di Kaki Gunung Ciremai
Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, ”balong” itu masuk wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara. Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu.
Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama.
Pada abad ke-14 di Cirebon lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peran yang besar dalam pengembangan perguruan Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung. Di usia tuanyan, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara.
Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna. Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta.
Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam ”ditanami” ikan kancra bodas. Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia.
Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu: Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah atau pun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan. Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan. Wallahhualam.qd


Talaga Warna








Diceritakan kembali oleh Maman Romansyah
Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu.
Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. "Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat," sahut mereka.
Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau.
Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri. Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.
Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.
Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. "Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku," kata Prabu. "Dengan senang hati, Yang Mulia," sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. "Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak," kata Prabu.
Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. "Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!" seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.
Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu. Tangisannya diikuti oleh semua orang.
Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. Mula-mula membentuk kolam kecil. Lalu istana mulai banjir. Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana.
Sekarang, danau itu disebut Talaga Warna. Danau itu berada di daerah puncak. Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga